Wednesday, March 05, 2008

My First Book Review Since 2001

Tugas dari kantor untuk meresensi buku Richard Vietor>>How Countries Compete: Strategy, Structure, and Government in the Global Economy
_____________________________________________________________

Di dunia yang semakin global, setiap negara harus berkompetisi jika ingin berkembang. Persaingan terbuka untuk memperebutkan pasar, teknologi, keahlian dan investasi merupakan satu-satunya jalan jika suatu negara ingin berkembang dan meningkatkan taraf hidup rakyatnya. Kenyataan ini menempatkan pemerintah pada posisi yang sangat penting, bahkan pada negara-negara yang ekonominya berbasis pasar. Bertolakbelakang dengan pandangan umum, Richard Vietor menegaskan bahwa pemerintahan yang dominan tidak identik dengan pengaruh buruk terhadap perekonomian yang berbasis pasar.

Berdasarkan pengalamannya sebagai staf pengajar di Harvard Business School dan konsultan di berbagai negara, Vietor menyajikan ulasan pendekatan-pendekatan pemerintah terhadap perkembangan ekonomi sebelas negara yang jika digabungkan jumlah penduduknya mencapai lebih dari tigaperempat penduduk dunia: Jepang, Singapura, China, India, Meksiko, Afrika Selatan, Saudi Arabia, Rusia, Italia, dan Amerika Serikat.

Ada tiga hal utama yang dibahas dalam buku ini. Pertama, tinjauan upaya negara-negara tersebut dalam mencapai tingkat pertumbuhan sampai sekarang. Kedua, proyeksi ekonomi negara-negara tersebut di masa depan. Ketiga, peran pemerintah masing-masing negara yang mempengaruhi perjalanan perkembangan ekonomi tersebut.

Sebagai latar belakang, bab pertama buku ini menjelaskan pentingnya strategi dan struktur. Dalam hal ini, Vietor menggarisbawahi peranan pemerintah dalam hal pembangunan ekonomi. Pemerintah, menurut Vietor, setidaknya harus mampu menjamin keamanan, penegakkan hukum, hak kepemilikan, dan risiko luar biasa. Selain itu pemerintah juga dituntut untuk mampu mengelola ekonomi makro dan kebijakan industri sebagai dampak dari kebijakan moneter yang telah dipilih.

Selanjutnya, pembahasan tiap negara dibagi menjadi tiga berdasarkan alur perkembangan ekonominya. Pembahasan bagian pertama meliputi pesatnya perkembangan ekonomi negara-negara Asia. Dengan bahasa yang sederhana, Vietor mengulas pertumbuhan ekonomi Jepang yang mencapai 10.1% selama tujuhbelas tahun berturut-turut. Selain itu, Singapura, China, dan India, menurut Vietor, merupakan contoh keberhasilan strategi ekonomi berbasis ekspor dan liberalisasi. Keberhasilan Singapura dinilai sebagai buah dari strategi pertumbuhan ekspor berbasis penanaman dana luar negeri yang ditunjang oleh kematangan institusi-institusi bentukan pemerintah dalam menerapkan kebijakan-kebijakan yang telah ditetapkan. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi China yang luarbiasa terjadi dibawah kebijakan pembangunan yang pragmatis dengan titik berat pada liberalisasi ekonomi dengan tetap mempertahankan kekuasaan politik di pusat. Pembahasan tentang India menyoroti peralihan dari swadeshi menuju ke arah liberalisasi. Langkah-langkah privatisasi yang dibarengi dengan reformasi perpajakan dan peraturan merupakan upaya India untuk bersaing secara global.

Bagian kedua membahas sulitnya perkembangan ekonomi ditengah perubahan struktur. Pada bagian ini, Vietor menyajikan kasus Meksiko yang perkembangan ekonominya tersendat antara lain karena adanya perubahan struktur politik. Senada dengan Meksiko, Afrika Selatan digambarkan sedang berkuat memperbaiki kinerja ekonominya setelah mengalami transisi dari rezim apartheid. Sementara itu, modernisasi di Arab Saudi menjadi pekerjaan rumah yang tidak ringan bagi pemerintahan Raja Abdullah. Diversifikasi ekonomi dan upaya menggerakkan warga Saudi untuk berinvestasi di negeri sendiri merupakan tantangan besar karena berbenturan dengan institusi-institusi dan budaya yang ada. Di Rusia, kegagalan big-bang liberalization di tatanan masyarakat multi-etnis yang telah lama menganut aliran komunis garis keras membuat kekuasaan justru berpindah ke sejumlah kecil pemilik modal. Pemerintah kehilangan wibawanya di mata masyarakat.

Italia, Jepang, dan Amerika Serikat merupakan fokus bahasan pada bagian ketiga. Melalui Italia, Vietor menyoroti integrasi Eropa dan permasalahan yang dihadapinya seperti pertumbuhan, produktifitas, defisit, dan yang paling utama: daya saing ekonomi. Sementara itu, Jepang sedang mengalami kemandekan menyusul pertumbuhan ekonomi yang luar biasa pasca Perang Dunia ke Dua. Demikian halnya Amerika Serikat. Tingkat konsumsi berlebihan dan defisit anggaran merupakan salah satu masalah terbesar yang dihadapi oleh negeri Paman Sam ini. Benang merah yang bisa ditarik dari ketiga kasus di atas, menurut Vietor, adalah lambatnya perubahan institusional dan bergesernya demografi ke arah penduduk usia lanjut.

Di bagian akhir Vietor kembali menegaskan peran penting pemerintah. Tanpa menafikan pola perilaku individual dan pelaku bisnis, Vietor berargumen bahwa kebijakan-kebijakan yang diterapkan pemerintah jelas berpengaruh besar terhadap perkembangan ekonomi. Di Amerika Serikat, kebijakan pemerintah tentang keamanan nasional, kesehatan, dan perdagangan serta kurangnya perhatian dalam hal tabungan dan nilai tukar merupakan faktor-faktor utama penyebab defisitnya anggaran negara tersebut.

Vietor melengkapi pembahasannya dengan latar belakang sejarah, geografi dan sosial budaya. Hal ini sangat membantu untuk memahami, misalnya, pilihan strategi ekonomi negara-negara Asia yang lebih banyak bertumpu pada tabungan, investasi dan penanaman modal adalah karena secara kultural masyarakatnya menjunjung kebiasaan menabung dan bekerja keras. Namun ada beberapa hal, misalnya pembahasan tentang kaum Dalit—kasta terendah di India, yang tidak terlalu signifikan kaitannya dengan tema utama.

Upaya yang dilakukan Vietor untuk menarik garis lintas pertumbuhan suatu negara untuk memprediksi kondisi perekonomian dan iklim bisnis di masa depan cukup menarik. Sekilas terngiang kecaman yang dilontarkan Gede Prama dalam bukunya Inovasi Atau Mati yang menyatakan kesia-siaan upaya semacam ini. Tidak ada yang pernah menduga, menurut Prama, bahwa perekonomian Asia sedang berkembang pesat akan carut-marut pada tahun 1998. Vietor pun menyadari hal ini. Menurutnya, prediksi dapat berubah secara radikal karena perang, kelangkaan bahan pangan, pemberontakan politik, maupun bencana ekonomi. Namun jika faktor-faktor diatas tidak ada, maka seorang pengamat yang memahami alur perjalanan ekonomi suatu negara dapat membuat prediksi terukur jangka pendek tentang hal-hal seperti keseimbangan fiskal dan utang, nilai tukar dan suku bunga, dan tentang tabungan, investasi, dan pertumbuhan.

Pada pembahasan tentang prediksi perkembangan ekonomi negara-negara di atas, sekilas Vietor tampak kurang berani untuk membuat prediksi yang definitif. Ia lebih banyak bersandar pada skenario what if. Misalnya ketika berbicara tentang China, Vietor menyatakan bahwa jika China semakin menyesuaikan diri dengan ketentuan-ketentuan Word Trading Organization (WTO) dan melanjutkan upaya privatisasi sektor BUMN, maka perekenomian China akan terus berkembang pesat setidaknya untuk satu dekade ke depan. Sebaliknya, jika China tetap mengandalkan besarnya volume ekspor dan rendahnya nilai tukar mata uangnya, maka Amerika Serikat akan terpaksa mengenakan embargo perdagangan, sesuatu yang bisa menjadi bumerang bagi China.

Namun demikian, pada bagian akhir buku, Vietor menempatkan dirinya sebagai investor dan melakukan penilaian terhadap prospek ekonomi negara-negara tersebut secara tegas. India dan Singapura dinilai memiliki prospek yang cerah, sementara prospek China, Meksiko, dan Eropa harus ditanggapi dengan ekstra hati-hati.

Secara keseluruhan, buku ini merupakan kontribusi yang sangat baik dalam menambah wawasan tentang perekonomian dunia. Pembahasannya mencakup tema yang cukup luas tanpa harus kehilangan kedalaman dan fokus. Di sini dapat dilihat peran sentral pemerintah sebagai pendukung, bukan penghalang, pertumbuhan ekonomi di era pasar bebas. Menurut Vietor, “Governmental power is too often misconceived or misused. Yet still, economic growth requires good government.”

No comments: