Saturday, September 09, 2006

When She's Near


I could never really pin-point what it was. Since even the slightest twitch of her eyebrow felt like a thundering roar of a thousand cannons bursting within me. It was so hard to contain. And the way her eyes dance, always seemed to be trying to tell something even when her lovely mouth did not. My senses were simply overrun.

Seeing her everyday was a torture, albeit not entirely unpleasant. I tried not to gaze when she was sitting across the room. But leaving such beauty unnoticed felt like commiting a cardinal sin. I wanted to stare as long as I could, foolishly thinking that if I did it long enough, her impression will be forever imprinted on the walls of my memory. When we were accidently in close proximity--I know she never meant it, whatever were left of my logic walked out of the door. My heart went all fluttery and my head swam at the slightest whiff of her scent.

I don't know what it was. Honestly. But it's there.

Sunday, September 03, 2006

Joran, Keranda, dan Bedahan

Waktu masih kecil, saya percaya betul kalau joran pancing yang paling bagus adalah yang dibuat dari bambu bekas keranda orang meninggal. Apalagi kalo yang bersangkutan meninggal pada hari Selasa Kliwon. Bisa dipastikan banyak anak-anak kecil yang berkumpul pada saat pemakaman; bukan untuk bertakziah tetapi mengincar kerandanya. Waktu itu keranda memang disposable, dibuat hanya untuk sekali pakai dan ditinggalkan begitu saja di pekuburan begitu kegunaannya selesai.

Kebetulan rumah sepupu saya di daerah Mertasinga terletak di depan kompleks pekuburan yang luas, sehingga sepupu-sepupu saya itu tidak pernah kekurangan stok bahan pembuat joran bertuah. Pembuatan joran itu pun menggunakan kaidah-kaidah tertentu. Misalnya, panjang bambu yang akan dijadikan joran harus diukur dengan kepalan tangan sambung menyambung sambil merapal mantra: tuk, beluk, panggang, pes. Diusahakan agar panjang bambu jatuh pada ‘panggang’ atau ‘pes’ sehingga nantinya mudah mendapat ikan. Konon.

Selain itu pakdhe saya juga pernah mengajarkan mantera berangkat memancing yang saya lupa bunyinya. Yang saya ingat, mantra itu diakhiri dengan menjejakkan kaki ke tanah sebanyak tiga kali. Beliau juga mengajarkan bahwa saat terbaik untu memancing adalah sehabis hujan atau saat mendung. Waktu saya agak gedhean sedikit, saya sempat membaca primbon yang dengan rinci menjabarkan saat, tempat, dan arah yang harus dituju agar mendapat hasil yang maksimal. Sekali lagi konon.

Kami biasanya menggunakan cacing tanah sebagai umpan karena hewan itulah yang paling mudah didapat. Cukup menggali tanah di kebun, terutama di dekat batang pisang yang sudah membusuk. Hewan-hewan malang itu kami kumpulkan di plastik bekas sabun B29. Terkadang kami juga menggunakan ulat pisang yang masih kecil, atau jika punya uang lebih kami membeli kroto, larva semut rangrang. Tapi umpan yang dipercaya paling ampuh adalah laron. Makanya setiap habis hujan, kami biasa menempatkan baskom berisi air di bawah lampu TL untuk memperangkap laron. Pokoknya kalau sudah memakai laron kami jadi sangat percaya diri bakal membawa pulang ikan seember penuh. Walau terkadang kenyataan berbicara lain.

Setelah umpan dan pancing siap, kami berjalan menyeberangi pekuburan. Ada kali, sungai kecil, yang mengalir sepanjang pinggiran pekuburan itu. Sungai tak bernama itu penuh dengan ikan lunjar dan bethik. Atau jika sebelumnya turun hujan deras, muncullah ikan kathing, sejenis ikan lundu tapi lebih kecil, yang bergerombol sepanjang aliran sungai. Yang paling sering kami dapat adalah ikan bethik. Ikan sebesar kotak korek api itu berwarna hitam kehijau-hijauan dan tahan hidup di darat untuk beberapa lama. Lunjar cenderung menyebalkan. Ikan kecil yang selalu berkelompok itu hanya mencemil-cemil umpan, tidak pernah benar-benar memakan. Perilaku yang sama juga ditunjukkan oleh ikan sepat. Memancing kathing adalah yang paling mudah. Ikan ini sangat rakus sehingga umpan sesedikit apapun pasti mereka sambar. Namun demikian, melepas ikan ini dari kail harus hati-hati. Terkena patil kathing, atau lele, adalah mimpi buruk setiap anak tukang mancing.

Kami menyusuri kali untuk sampai ke kedhung, lubuk tempat ikan-ikan berkumpul. Di bawah pohon lo yang rindang, kami berpencar untuk mencari tempat yang dianggap strategis. Ada beberapa aliran pemikiran yang berbeda dalam hal ini. Sebagian beranggapan bahwa frekuensi kecipak air di suatu tempat berbanding lurus dengan kandungan ikan tempat tersebut. Sebagian yang lain berkeras bahwa ikan paling suka bernaung dibawah tanaman air seperti keladi, eceng gondok, tapak dara, atau kangkung. Sementara itu, pendapat yang lain mengatakan bahwa ikan lebih banyak didapati ditempat-tempat yang dalam. Saya sendiri lebih menyenangi tempat yang teduh.

Saat memancing, saya lebih suka menggunakan kumbul alias pelampung, biasanya terbuat dari potongan sandal jepit, gabus, patahan ranting, atau benda-benda lain yang mengapung. Jadi saya bisa santai, melamun sambil memperhatikan pelampung. Jika pelampung bergerak-gerak, berarti umpan dimakan ikan. Sepupu-sepupu yang lain, terutama yang lebih tua, cenderung memancing tanpa pelampung, hanya menggunakan pemberat. Mereka mengandalkan jempol dan jari telunjuk untuk merasakan kedutan-kedutan ketika umpan mereka dimakan ikan. Cuma pake feeling. Dengan cara ini pula mereka bisa memancing ikan yang terdapat di dasar sungai seperti boso dan gabus.

Gabus adalah ikan yang paling bergengsi. Pertama karena jarang ditemui; kedua, karena biasanya berukuran besar. Saya pernah mendapatkan ikan gabus sebesar lengan. Perasaan kaget campur gembira yang saya rasakan waktu itu tak akan bisa dilupakan. Pokoknya seperti mendapatkan jackpot. Belum lagi pandangan kagum dan iri dari anak-anak lain.

Di ujung pekuburan sungai berbelok ke arah persawahan. Saya paling suka kalau kami memancing sampai ke sini. Desir angin di antara batang-batang padi adalah suara yang paling menenangkan. Semilirnya membuat terik matahari menjadi tidak terasa.

Di ujung persawahan, sungai itu menyempit dan arusnya sedikit lebih deras. Di sini hidup ikan-ikan yang lebih eksotis, terutama mereka yang gemar akan arus deras seperti tawes dan melem. Terus terang saya sudah tidak ingat lagi bentuk ikan melem. Di pasar-pasar mereka makin jarang dijumpai. Jangan-jangan sudah masuk golongan hewan langka.

Pada saat-saat tertentu, terutama sehabis hujan lebat, gundukan tanah yang memisahkan sungai itu dengan persawahan runtuh tergerus derasnya aliran air. Lokasi tempat melubernya air ke persawahan itu disebut sebagai bedahan—dari kata ‘bedah’, sobek. Berita tentang adanya bedahan biasanya menyebar lebih cepat dari aliran sungai dimaksud. Begitu hujan berhenti, bisa dipastikan tempat itu ramai dikunjungi anak-anak dengan joran pancingnya. Konon di situ banyak ikannya. Mungkin karena ikan-ikan sawah tertarik oleh aliran air dan berusaha masuk ke sungai. Entahlah. Yang jelas, begitu mendengar kata ‘bedahan’, saya secara naluriah langsung mencari joran pancing.

Naluri itu terbawa ketika saya sudah kuliah di Jogja. Pernah suatu saat ayah saya menelepon untuk mengabarkan bahwa sawah-sawah di Mertasinga digenangi air yang meluber dari sungai. Sebagai tambahan, kolam-kolam ikan yang ada di utara pekuburan juga terkena imbasnya. Hari itu juga saya pulang.